Jumat, 09 Maret 2012

Go Green Indonesia

        Maraknya program Go Green di Indonesia saat ini, tanpa disadari banyak pengaruh yang dirasakan oleh masyarakat kita. Baik dari segi kurang nya , pemborosan bahan bakar minyak, kesehatan, trend, dan penjualan sepeda tentunya. Banyak sekali jenis-jenis sepeda yang beredar di pasaran dan sering kita lihat di jalanan. Mulai dari Sepeda MTB, Fixie, BMX, , Tandem, Low Rider dan masih banyak lagi.

Tentang Low Rider

        Kali ini kita akan membahas sedikit tentang Sepeda Low Rider. Ada yang berbeda ketika kita melihat model sepeda satu ini. Sepeda Lowrider ini bentuknya beda dengan sepeda pada umumnya, bentuk yang panjang dan batang yang melengkung, tatanan Spoke yang banyak, menjadi salah satu hal yang menjadikan sepeda Lowrider unik dan berbeda dengan sepeda lain. Kesan unik dan estetika seni benar2 ditonjolkan pada sepeda Low Rider.

Jenis-jenis Low Rider

        Jenis dari sepeda Lowrider bermacam-macam, seperti Cruiser, Limo, dan Chopper. Harga untuk membuat sepeda Low Rider sendiri berfariasi tergantung si pembuat, yaitu mulai dari 1,5 juta sampai 2,5 juta. Banyak bengkel-bengkel sepeda yang sudah menjual Sepeda Lowrider, jadi kita tidak perlu khawatir untuk mendapatkan sperpart Lowrider.
Buat para dan Gowesist, mungkin sepeda Lowrider menjadi salah satu pilihan untuk bersepeda. Disamping untuk berolahraga sepeda Lowrider juga enak untuk di pandang. Berikut ada sedikit gambar sepeda Low Rider bersama seorang Gowesist, yang mungkin bisa menjadi inspirasi para Gowesist untuk menentukan pilihan sepeda apa yang cocok buat para Gowesist sendiri. Dan juga bisa dijadikan acuan bahwa seorang cewek tetep terlihat cantik dan terlihat sexy saat Gowes. Terlepas dari sepeda apapun yang mereka kendarai.

Macam-Macam Sepeda Lowrider

         Ada beberapa aliran yang menggolongkan Low Rider ini kedalam beberapa jenis yaitu Clasic alias Original, Vegas alias Continental dengan cirinya memakai ban serep di bagian belakang seperti vespa. Aliran lain membagi sepeda low rider ini menjadi Low Rider Bicycle, Chopper, Stretch, Limo Bike, Beach Cruiser dan Trike (roda tiga).
01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17..
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.

Sejarah Tentang Sepeda  

 

        Seperti ditulis Ensiklopedia Columbia, nenek moyang sepeda diperkirakan berasal dari Perancis. Menurut kabar sejarah, negeri itu sudah sejak awal abad ke-18 mengenal alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede. Bertahun-tahun, velocipede menjadi satu-satunya istilah yang merujuk hasil rancang bangun kendaraan dua roda.
        Yang pasti, konstruksinya belum mengenal besi. Modelnya pun masih sangat "primitif". Ada yang bilang tanpa engkol, pedal tongkat kemudi (setang). Ada juga yang bilang sudah mengenal engkol dan setang, tapi konstruksinya dari kayu.
        Adalah seorang Jerman bernama Baron Karls Drais von Sauerbronn yang pantas dicatat sebagai salah seorang penyempurna velocipede. Tahun 1818, von Sauerbronn membuat alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya. Sebagai kepala pengawas hutan Baden, ia memang butuh sarana transportasi bermobilitas tinggi. Tapi, model yang dikembangkan tampaknya masih mendua, antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat menjuluki ciptaan sang Baron sebagai dandy horse.
        Baru pada 1839, Kirkpatrick MacMillan, pandai besi kelahiran Skotlandia, membuatkan "mesin" khusus untuk sepeda. Tentu bukan mesin seperti yang dimiliki sepeda motor, tapi lebih mirip pendorong yang diaktifkan engkol, lewat gerakan turun-naik kaki mengayuh pedal. MacMillan pun sudah "berani" menghubungkan engkol tadi dengan tongkat kemudi (setang sederhana).
Sedangkan ensiklopedia Britannica.com mencatat upaya penyempurnaan penemu Perancis, Ernest Michaux pada 1855, dengan membuat pemberat engkol, hingga laju sepeda lebih stabil. Makin sempurna setelah orang Perancis lainnya, Pierre Lallement (1865) memperkuat roda dengan menambahkan lingkaran besi di sekelilingnya (sekarang dikenal sebagai pelek atau velg). Lallement juga yang memperkenalkan sepeda dengan roda depan lebih besar daripada roda belakang.
        Namun kemajuan paling signifikan terjadi saat teknologi pembuatan baja berlubang ditemukan, menyusul kian bagusnya teknik penyambungan besi, serta penemuan karet sebagai bahan baku ban. Namun, faktor safety dan kenyamanan tetap belum terpecahkan. Karena teknologi suspensi (per dan sebagainya) belum ditemukan, goyangan dan guncangan sering membuat penunggangnya sakit pinggang. Setengah bercanda, masyarakat menjuluki sepeda Lallement sebagai boneshaker (penggoyang tulang).
        Sehingga tidak heran jika di era 1880-an, sepeda tiga roda yang dianggap lebih aman buat wanita dan laki-laki yang kakinya terlalu pendek untuk mengayuh sepeda konvensional menjadi begitu populer. Trend sepeda roda dua kembali mendunia setelah berdirinya pabrik sepeda pertama di Coventry, Inggris pada 1885. Pabrik yang didirikan James Starley ini makin menemukan momentum setelah tahun 1888 John Dunlop menemukan teknologi ban angin. Laju sepeda pun tak lagi berguncang.
        Penemuan lainnya, seperti rem, perbandingan gigi yang bisa diganti-ganti, rantai, setang yang bisa digerakkan, dan masih banyak lagi makin menambah daya tarik sepeda. Sejak itu, berjuta-juta orang mulai menjadikan sepeda sebagai alat transportasi, dengan Amerika dan Eropa sebagai pionirnya. Meski lambat laun, perannya mulai disingkirkan mobil dan sepeda motor, sepeda tetap punya pemerhati. Bahkan penggemarnya dikenal sangat fanatik.